Rabu, 14 Februari 2024

Sejarah Hidup HIndu Buddha


Mengapa Harus Mempelajari Sejarah Hindu dan Buddha?


1. Pemahaman Akar Budaya: Hinduisme dan Buddhisme memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk budaya, tradisi, dan masyarakat di banyak wilayah di Asia, termasuk India, Nepal, Tibet, Sri Lanka, dan Asia Tenggara. Memahami sejarah keduanya membantu kita memahami akar budaya, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat di wilayah-wilayah ini.


2. Pemahaman Spiritualitas dan Filosofi: Ajaran Hindu dan Buddha mengandung banyak konsep spiritual dan filosofis yang penting bagi banyak orang di seluruh dunia. Mempelajari sejarah mereka membantu kita memahami perkembangan, evolusi, dan pengaruh ajaran-ajaran ini terhadap pemikiran manusia, spiritualitas, dan filsafat.


3. Toleransi dan Pemahaman Antaragama: Dalam konteks globalisasi, penting bagi kita untuk memahami keyakinan dan praktik agama lain untuk mempromosikan toleransi, dialog, dan saling pengertian. Memahami sejarah Hindu dan Buddha memungkinkan kita untuk menghargai kekayaan dan keragaman tradisi keagamaan di dunia serta memperkuat hubungan antarbudaya.



Mengapa Sejarah Hindu dan Buddha Masuk ke Indonesia?


1. Jalur Perdagangan dan Kultural: Indonesia, sebagai negara kepulauan yang strategis, telah menjadi pusat lintasan perdagangan dan jalur migrasi manusia selama berabad-abad. Hinduisme dan Buddhisme masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan kultural, terutama melalui hubungan dengan India dan Tiongkok.


2. Pengaruh Kerajaan Kuno: Pada masa lalu, Indonesia memiliki banyak kerajaan dan kerajaan kuno yang memeluk agama Hindu dan Buddha. Kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit menjadi pusat penyebaran agama-agama ini di wilayah Nusantara.


3. Penyebaran Agama dan Kebudayaan: Agama Hindu dan Buddha dibawa oleh para pedagang, pendeta, dan penjelajah dari India dan Tiongkok ke wilayah-wilayah kepulauan Indonesia. Mereka membawa tidak hanya ajaran agama, tetapi juga aspek-aspek budaya, seperti sastra, seni, dan arsitektur, yang mempengaruhi perkembangan budaya dan agama di Indonesia.







Dengan demikian, mempelajari sejarah Hindu dan Buddha, serta mengapa sejarah ini masuk ke Indonesia, membantu kita memahami latar belakang budaya, agama, dan masyarakat di Indonesia, serta memperluas pemahaman kita tentang peradaban manusia secara keseluruhan.

Rabu, 31 Januari 2024

Kerajaan Majapahit





   Sejarah Kerajaan Majapahit pernah menjadi bagian dari sejarah besar bangsa Indonesia di Nusantara. Pusat pemerintahan atau ibu kota kerajaan yang berdiri pada akhir abad ke-13 Masehi ini beberapa kali berpindah lokasi di Jawa Timur seiring era kepemimpinan raja-raja yang pernah berkuasa. 

   Pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara, -penguasa terakhir Kerajaan Singasari, yang terbunuh lantaran pemberontakan Jayakatwang pada 1292. Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dari insiden tersebut.

   Pendeklarasian berdirinya Kerajaan Majapahit dilakukan setelah Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang pada 1293. Setelah itu, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309). 

   Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan gelar Sri Rajasanagara (1350-1389) yang tidak lain adalah cucu Raden Wijaya. Kepemimpinan Hayam Wuruk amat kuat berkat dukungan dari Mahapatih Gajah Mada yang bertekad menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.



Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit 

   Dikutip dari Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012) karya Inajati Adrisijanti, Raden Wijaya kemudian membuka hutan di dekat Sungai Brantas, tepatnya di daerah Mojokerto sekarang.

   Terbentuklah suatu desa yang kemudian dikenal dengan nama Majapahit. Asal mula nama Majapahit berawal dari buah bernama maja. Buah yang rasanya pahit itu banyak terdapat di dalam hutan tempat Raden Wijaya dan pengikutnya berlindung untuk menyusun kekuatan kembali. 

   Raden Wijaya mulai bergerak, meminta dukungan dari berbagai pihak sekaligus mengumpulkan kekuatan untuk menyerang balik Jayakatwang sekaligus membalaskan dendam sang mertua, Raja Kertanegara.

   Dengan dibantu jajaran pengikut setia seperti Arya Wiraraja, Nambi, Kebo (Mahisa) Anabrang, Lembu Sora, dan lainnya, Raden Wijaya mampu mengalahkan Jayakatwang berkat persekutuan dengan pasukan utusan dari Kekaisaran Mongol yang saat itu tiba di Jawa.

   Penguasa Mongol kala itu, Khubilai Khan, mengirimkan pasukan ke Jawa untuk menyerang Singasari yang ternyata telah dikuasai oleh Jayakatwang. Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya justru balik menyerang pasukan Mongol dan menghancurkan mereka. 

   Usai itu, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 dengan pusat pemerintahan di Trowulan, Mojokerto. Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M). 


  Dari sinilah kemudian Kerajaan Majapahit berkembang pesat, dengan mula-mula menguasai bekas wilayah kekuasaan Singasari. 

  Raden Wijaya berhasil menanamkan pondasi yang kuat untuk Kerajaan Majapahit dan nantinya merengkuh masa kejayaan pada masa pemerintahan sang cucu, Hayam Wuruk. 

Pusat Kerajaan Majapahit Pusat pemerintahan atau ibu kota Kerajaan Majapahit setidaknya pernah 3 kali berpindah tempat namun masih di wilayah Jawa bagian timur. 

1. Mojokerto Ibu kota pertama kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini adalah di Mojokerto pada masa kepemimpinan pendiri sekaligus raja pertama, Raden Wijaya alias Kertarajasa Jayawardhana. Dikutip dari Kumpulan Sejarah Desa Kabupaten Mojokerto (2020) suntingan Evi Sudyar, pada masa itu ibu kota Majapahit disebut dengan nama Kutaraja dan terletak tidak jauh dari pelabuhan besar bernama Canggu di tepi Sungai Brantas. Selain sebagai pusat perniagaan atau bandar dagang, lokasi Canggu yang masih berada di wilayah Kutaraja sangat strategis untuk difungsikan sebagai sebagai pangkalan militer armada angkatan laut Kerajaan Majapahit yang memang amat kuat saat itu. 

2. Trowulan Pusat pemerintahan Majapahit bergeser sedikit pada masa kepemimpinan Sri Jayanegara (1309-1328), penerus takhta Raden Wijaya. Raja kedua Majapahit ini memindahkan ibu kota ke Trowulan yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Mojokerto sekarang. Kitab perjalanan Cina bertajuk Yingyai Shenglan yang ditulis oleh seorang penjelajah bernama Ma Huan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 M adalah di Trowulan. Dikutip buku terjemahan J.V.G Mills (1970), disebutkan bahwa kawasan itu merupakan kota yang sangat besar tempat raja bersemayam. Sejumlah situs yang merupakan peninggalan peradaban Majapahit yang ditemukan di Trowulan juga semakin menguatkan peran tempat tersebut sebagai bekas ibu kota kerajaan yang pernah mengalami masa-masa yang amat jaya. Trowulan menjadi pusat pemerintahan Majapahit dalam waktu yang cukup lama. Dari era Sri Jayanegara yang bertakhta sejak tahun 1309 hingga menjelang keruntuhan kerajaan ini pada abad ke-16 Masehi. Para pemimpin ternama seperti Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, Ratu Suhita, hingga Bhre Kertabumi alias Brawijaya V pernah memimpin kerajaan dari Trowulan.

3. Daha (Kediri) Lantaran berbagai polemik internal dan ancaman serangan dari Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, posisi Majapahit semakin terdesak pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi atau Brawijaya V (1468-1478). Kala itu, pengaruh Islam memang sedang berkembang pesat di Jawa sehingga muncul Kesultanan Demak yang didirikan oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama Raden Patah. Raden Patah adalah putra kandung Brawijaya V dari istri seorang wanita berdarah Cina bernama Siu Ban Ci. Pada masa-masa genting inilah ibu kota Majapahit terpaksa dipindahkan dari Trowulan ke Daha yang merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri (Kediri) oleh Girindrawardhana atau Brawijaya VI (1478-1489). Tahun 1517, pasukan Kesultanan Demak menyerang Daha yang membuat perekonomian Kerajaan Majapahit lumpuh. Serangan tersebut dipimpin oleh Pati Unus (1488-1521), Sultan Demak kedua yang merupakan menantu Raden Patah. Satu dekade berselang, tahun 1527, Kesultanan Demak kembali menyerbu Daha, di bawah komando Sultan Trenggana di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana (1521-1546), penguasa Demak ketiga yang juga adik Pati Unus. Serangan dari pasukan perang Kesultanan Demak kali ini benar-benar membuat Daha jatuh sekaligus menghancurkan Majapahit. Kerajaan pernah sangat perkasa di Nusantara ini akhirnya menuai keruntuhan untuk selama-lamanya.

1. Perpindahan Pusat Kerajaan Majapahit Mojokerto pada era Raden Wijaya (1293-1309) 

2. Trowulan pada era Sri Jayanagara (1309-1328) 

3. Daha atau Kediri pada era Brawijaya VI (1478-1489) 

4. Daftar Raja-Raja Majapahit 

5. Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309) 

6. Kalagamet/Sri Jayanagara (1309-1328) 

7. Sri Gitarja/Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)

8. Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1350-1389) 

9. Wikramawardhana (1389-1429) 

10. Suhita /Dyah Ayu Kencana Wungu (1429-1447)

11. Kertawijaya/Brawijaya I (1447-1451) 

12. Rajasawardhana/Brawijaya II (1451-1453) 

13. Purwawisesa /Girishawardhana/Brawijaya III (1456-1466) 

14. Bhre Pandansalas/Suraprabhawa/Brawijaya IV (1466-1468) 

15. Bhre Kertabumi/Brawijaya V (1468 -1478) 

16. Girindrawardhana/Brawijaya VI (1478-1489) 

17. Patih Udara/Brawijaya VII (1489-1527)

Sejarah Kota Jepara

 


   Sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah, Indonesia, memiliki kekayaan sejarah dan keunikan budaya. Asal-usul Jepara dapat ditelusuri hingga zaman kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, di mana daerah ini telah menjadi pusat perdagangan dan peradaban maritim.


   Adapun yang membuat Jepara benar-benar dikenal di seluruh dunia adalah julukannya sebagai 'kota ukir dunia'. Gelar ini tidak diberikan secara sembarangan, melainkan tercermin dari warisan seni ukir kayu yang membanggakan, yang telah menjadi ciri khas kota ini.

   Jepara menyimpan sejarah panjang hingga kota tersebut mendapat julukan sebagai kota ukir berkelas dunia. Berikut ini penjelasan sejarah dan asal-usul Jepara.


 Asal-usul Nama Jepara
 
   Dikutip dari laman resmi PPID Kabupaten Jepara, asal nama Jepara berasal dari kata Ujung Para yang kemudian berubah menjadi Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara Kata Jepara sendiri memiliki arti sebagai sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah.

   Kata ujung para terdiri dari dua kata yakni ujung dan para, ujung dalam kamus bahasa Indonesia memiliki arti bagian darat yang menjorok (jauh) ke laut, sedangkan para memiliki arti menunjukan arah. Sehingga ujungpara sendiri jika digabungkan memiliki arti sebagai suatu daerah yang letaknya menjorok ke laut.

 Sejarah Jepara Dijuluki Kota Ukir Berkelas Dunia

   Kota Jepara dijuluki sebagai The World Carving Center atau kota ukir dunia. Julukan tersebut dilatarbelakangi Sejak abad ke-19, Jepara telah dikenal sebagai salah satu daerah pusat penghasil kerajinan ukiran kayu dan mebel terbesar di Indonesia bahkan telah dikenal hingga mancanegara.

   Karya seni ukir kayu sudah menjadi bagian dari budaya, seni, dan ekonomi masyarakat Jepara sejak dulu yang diturunkan dari generasi ke generasi seiring perkembangan zaman. Pada saat ini, Kota Jepara menjadi salah satu daerah penghasil kerajinan ukiran kayu terbesar di Indonesia, bahkan produk kerajinan kayunya telah di ekspor ke berbagai negara di dunia.

Lantas, bagaimana sejarah jepara dijuluki kota ukir berkelas dunia ?

Mengutip dari laman resmi Indonesia.go.id, sejarah kota Jepara mendapat julukan kota ukir karena dahulu kala Prabangkara, ahli lukis dan ukir itu, dipanggil oleh Raja Brawijaya untuk melukis istrinya dalam keadaan tanpa busana sebagai wujud cinta sang raja. Sebagai pelukis, ia harus melukis melalui imajinasinya tanpa boleh melihat permaisuri dalam keadaan tanpa busana.


Sejarah Ratu Kalinyamat


   Ratu Kalinyamat menjadi salah satu tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI di peringatan Hari Pahlawan tahun 2023. Lantas, siapa sosok perempuan pemberani asal Jawa Tengah tersebut dan bagaimana biografi singkatnya?

   Jepara ternyata tidak hanya melahirkan R.A. Kartini yang kemudian menjadi perempuan inspiratif bagi bangsa Indonesia. Jauh sebelum era Kartini, ada sosok pendekar wanita pendahulunya yang kelak sama-sama dinobatkan sebagai pahlawan nasional, yakni Ratu Kalimanyat.

   Diego De Couto, seorang penulis asal Portugis, menyebut Ratu Kalinyamat dengan julukan Rainha de Jepara, senhora poderosa e rica. Artinya, "Ratu Jepara yang gagah berani dan berkuasa."

   Ya, Ratu Kalinyamat adalah seorang pemimpin dalam makna sebenarnya. Ia memimpin Jepara selama 3 dekade pada abad ke-16 Masehi dan membawa kejayaan untuk wilayahnya. Bahkan, Ratu Kalinyamat pernah 2 kali mengirim pasukan untuk menyerang Portugis di Malaka.

 Biografi Singkat Ratu Kalinyamat

   Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana. Ia merupakan keturunan pemimpin Kesultanan Demak yang merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa. Ratu Kalinyamat alias Retna Kencana adalah putri Sultan Trenggono sekaligus cucu Raden Patah, Sultan Demak pertama.

   Raden Patah (1500-1518 M) sendiri konon adalah putra Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V. Sedangkan Sultan Trenggono merupakan putra Raden Patah yang memimpin Kesultanan Demak pada 1521-1546 M. 

   Dikutip dari Indonesia The Land of 1000 Kings (2004) karya Dwitri Waluyo, Sultan Trenggono menikahi anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang yang merupakan wakil dari Majapahit.

   Dari pernikahan itulah kemudian lahir Ratna Kencana atau yang lantas dikenal sebagai Ratu Kalinyamat. Ratna Kencana memang bukan lahir di Jepara, melainkan di Demak, di lingkungan kerajaan. Namun, nantinya ia bakal sangat lekat dengan Jepara.

   Ratna Kencana menikah dengan Pangeran Thoyib, putra Sultan Mughayat Syah, pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam yang bertakhta pada 1514-1528 M. Pangeran Thoyib kemudian ditugaskan untuk memimpin wilayah pesisir sebelah timur Kesultanan Demak, yakni di daerah Kalinyamat dengan Jepara sebagai pusatnya. 

   Dari situlah kemudian nama Kalinyamat tersemat untuk Pangeran Thoyib yang menjadi memimpin daerah itu bersama istrinya, Ratna Kencana.

    Namun, Pangeran Thoyib alias Pangeran Kalinyamat meninggal dunia pada 1549. Ia dibunuh orang-orang suruhan Arya Penangsang, Bupati Jipang Panolan, yang kala itu melakukan perlawanan terhadap Kesultanan Demak.

   Andreas Gosana dalam Warawiri: Life Consists of Endless Back and Forth Journeys in Time (2016), menuliskan, setelah tragedi tersebut, Ratna Kencana menyandang nama Ratu Kalinyamat sebagai penghormatan terhadap mendiang suaminya. Ia juga melakukan ritual bertapa demi membalas dendam.

   Dalam buku karya Bambang Sulistyanto berjudul Ratu Kalinyamat Sejarah atau Mitos (2019) terbitan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, pertapaan Ratu Kalinyamat yang ikonik ini dapat diartikan secara simbolis, yakni proses penyucian diri. 

   Pemberontakan Arya Penangsang -yang sempat menduduki Kesultanan Demak- akhirnya dapat diatasi atas peran sejumlah tokoh, termasuk Ratna Kencana alias Ratu Kalinyamat.

   Arya Penangsang mati di tangan Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram Islam.

Jasa-jasa Pahlawan Nasional Ratu Kalinyamat

   Setelah Arya Penangsang tewas, Ratna Kencana dilantik menjadi pemimpin Jepara pada 10 April 1549 M. Gelar Ratu Kalinyamat pun semakin melekat pada sosok perempuan tangguh ini. 

   Menukil penelitian bertajuk "Ratu Kalinyamat: Ratu Jepara yang Pemberani" karya Chusnul Hayati dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, menuliskan, Ratu Kalinyamat merupakan wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani.

   Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz, Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.

   Ketenaran Ratu Kalinyamat terdengar sampai ke negeri seberang. Pada 1550, Sultan Johor meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk mengusir penjajah Portugis dari Malaka.

    Ratu Kalinyamat menyanggupi dengan mengirimkan 40 kapal perang yang mengangkut 4.000 orang tentara ke Malaka. Di sana, sebut H.J. de Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram (2001), armada perang Jepara bergabung dengan Persekutuan Melayu yang berkekuatan lebih dari 150 kapal.



   Pasukan gabungan Jepara dan Melayu dengan hebatnya bertempur melawan tentara Portugis dan nyaris meraih kemenangan di Malaka.

   Namun, 2.000 prajurit Ratu Kalinyamat dilaporkan gugur dalam perang dan sebagian menjadi korban badai di lautan. Sisa pasukan tersebut kemudian memutuskan pulang ke Jawa setelah berperang selama 3 bulan penuh di darat maupun laut.

   Perang melawan Portugis berlanjut pada 1565, kali ini ke timur, yakni ke Maluku. Paramita Rahayu Abdurachman dalam Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia (2008) menyebutkan, Ratu Kalinyamat mengirimkan pasukan untuk membantu Kerajaan Tanah Hitu di Maluku yang juga diserang Portugis.

   Pulang dengan hasil yang kurang memuaskan dari Maluku, Ratu Kalinyamat tidak menyerah dalam membantu kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk mengusir Portugis.

   Pada 1573, datang permohonan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah, untuk kembali melawan Portugis di Malaka. Ratu Kalinyamat yang memang pernah menjadi istri pangeran dari Aceh langsung mengiyakan permohonan bantuan tersebut.

   Kali ini, armada perang dari Jepara jauh lebih besar yakni dengan kekuatan 300 kapal dan 15.000 prajurit. Pasukan ini tiba di Malaka pada 1574.

   Namun, perjalanan armada kedua ke Malaka ini penuh rintangan di samudera sehingga memakan waktu tempuh yang lebih lama dari yang diperkirakan. Ketika tiba di Semenanjung Melayu, pasukan Aceh Darussalam ternyata sudah dipukul mundur oleh Portugis.

   Armada Jepara kiriman Ratu Kalinyamat pun menyerang Portugis tanpa bantuan. Hasilnya,  30 kapal Jepara hancur. Situasi semakin memburuk karena Portugis memakai taktik licik.

   Portugis membajak kapal-kapal milik Ratu Kalinyamat yang belakangan datang dengan membawa perbekalan bahan pangan. Alhasil, para prajurit Jepara yang sedang bertempur pun kekurangan makanan dan sekitar 7.000 orang gugur di Malaka.


   Kekuatan Jepara semakin lemah akhirnya memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang bisa kembali ke Jawa. 

   Beberapa tahun setelah peristiwa heroik itu, Ratu Kalinyamat meninggal dunia, yakni pada 1579 di Jepara. Jenazahnya disemayamkan di Kompleks Makam Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah.

Sejarah Hidup HIndu Buddha

Mengapa Harus Mempelajari Sejarah Hindu dan Buddha? 1. Pemahaman Akar Budaya: Hinduisme dan Buddhisme memiliki pengaruh yang sangat besar d...